Tampilkan postingan dengan label Konsumsi Tuna Kaleng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsumsi Tuna Kaleng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

7 tips menyimpan tuna kaleng siap makan

Tuna kaleng siap makan memang sudah banyak tersedia di pasaran saat ini mulai dari toko kelontong, pasar hingga mini market atau swalayan. Seperti halnya makanan kaleng lainnya, ikan tuna kaleng tersedia dalam berbagai jenis olahan. Ikan tuna saat ini menjadi salah satu bahan lauk yang banyak diminati masyarakat dari balita hingga orang tua.
Selain rasanya lezat, ikan tuna juga mengandung berbagai nutrisi yang sangat berguna bagi kesehatan. Kandungan nutrisi tersebut antara lain protein, vitamin B, asam lemak omega 3, DHA, selenium dan masih banyak lagi. Pengolahan ikan tuna kaleng siap makan tentu beragam tergantung selera masing-masing. Ikan tuna kaleng dapat disajikan dengan hanya dipanasi saja atau diolah dengan penambahan bumbu.
7 tips menyimpan tuna kaleng siap makan
Bagi yang sering bingung karena tidak dapat menghabiskan satu kaleng utuh tuna. Masyarakat kebanyakan menyisakan tuna dalam kaleng yang sudah terlanjur terbuka. Hal ini tentu membuat tuna dalam kaleng tersebut menjadi tidak tahan lama. Untuk itu, berikut terdapat tujuh tips penyimpanan tuna kaleng siap makan yang patut dilakukan:
  • Pilih kemasan tuna kaleng yang masih utuh
Ketika membeli makanan berkemasan kaleng khususnya ikan tuna, hal pertama yang harus diperhatikan adalah keutuhan kemasan kaleng tersebut. Ikan tuna kaleng yang telah mengalami proses pengolahan, sterilisasi hingga pengemasan seharusnya telah memenuhi standar. Pada umumnya, pada saat keluar dari Pabrik tuna kaleng sudah dalam kondisi layak konsumsi.
Terjadinya kerusakan atau cacat kemasan kaleng diakibatkan oleh proses distibusinya hingga tangan konsumen. Untuk itu, pastikan kaleng tuna dalam kondisi tersegel dan utuh sebelum membelinya. Jangan sampai menerima kaleng tuna dalam kondisi rusak seperti penyok, bocor atau cacat yang lain. Beberapa ciri-ciri tuna kaleng yang sangat rusak adalah mengalami penggelembungan. Tentu saja jika kondisi kemasan kaleng tuna sudah demikian, maka tuna tersebut sudah tak layak konsumsi.
  • Segera pindah sisa tuna ke tempat lain
Setelah memperoleh tuna kaleng yang masih berkualitas, banyak orang yang  makan tuna kaleng tanpa dimasak namun tak habis. Ketika tuna kaleng tersebut masih tersisa, jangan biarkan berada di dalam kemasan kaleng. Pindahkan segera sisa tuna tersebut ke tempat penyimpanan makanan yang bersih. Selain bersih, wadah makanan yang digunakan untuk menyimpan sisa tuna juga harus tetutup rapat dan tahan untuk disimpan dalam almari es.
Pilihan material yang paling tepat untuk menyimpan sisa tuna kaleng tersebut adalah wadah plastik yang dilengkapi dengan penutup yang kedap udara. Selain dapat tahan lama, penyimpanan sisa tuna kaleng di dalam wadah plastik kedap udara juga mampu melindungi tuna dari bakteri atau kuman yang berkembang di udara. Kontaminasi bakteri dan kuman tentu dapat menyebabkan konsumennya terjangkit penyakit.
  • Tutup rapat tempat penyimpanan
Jangan lupa untuk menutup secara rapat wadah penyimpanan sisa tuna kaleng tersebut. Setelah tertutup rapat dan kedap udara, lakukan penyimpanan di tempat yang sejuk, kering dan terhindar dari sinar matahari langsung. Selain teksturnya menjadi dapat selalu terjaga, tuna kaleng juga dapat bertahan lebih lama jika disimpan di tempat yang tepat dalam wadah yang tepat pula.
  • Simpan ke dalam kulkas
Tips penyimpanan tuna kaleng yang tak kalah penting adalah melakukan penyimpanan tuna yang telah disimpan dalam wadah kedap udara di dalam kulkas. Alamari es adalah tempat yang paling tepat untuk digunakan menyimpan sisa tuna kaleng. Suhunya yang jauh lebih rendah dari suhu ruang akan mampu membuat sisa tuna kaleng menjadi lebih awet.
Terlebih jika disimpan di dalam wadah kedap udara, maka akan lebih tahan lama. Bahkan apabila disimpan di dalam kulkas, sisa ikan tuna tetap akan dapat bertahan meski tempat penyimpanannya tak dilengkapi dengan tutup. Sisa tuna tak bertutup dapat bertahan di dalam kulkas hingga 2 hari. Namun akan jauh lebih lama jika disimpan di wadah kedap udara.
Tuna kaleng siap makan juga sebaiknya tidak diolah atau dipanaskan berkali-kali. Mengolah tuna kaleng sekali saja sudah cukup dan sebaiknya hidangan langsung dihabiskan saat itu juga. Tuna kaleng yang mengalami pemasanan berulang kali kadar nutrisinya dapat menurun secara drastis bahkan akan hilang. Berbeda jika dipanaskan hanya satu kali, maka kadar cairan yang memiliki kandungan nutrisi melimpah tetap akan bertahan dan tidak rusak. Untuk itu, jika dalam proses pengolahannya membutuhkan tambahan cairan, gunakan air yang sudah matang dan terjaga kebersihannya.
  • Jangan mengonsumsi tuna kaleng yang sudah berbuih
Saat mendapati kemasan kaleng tuna yang rusak, maka sudah wajib bagi Anda supaya tak membeli atau mengkonsumsinya. Selain cara menyimpan tuna kaleng  yang baik seperti di atas, tampilan tuna kaleng juga harus sangat diperhatikan. Hindari produk yang memiliki kerusakan pada kaleng. Terlebih produk yang tampilan ikan tunanya sudah berubah warna, berjamur atau bahkan berbuih.
Jika karakteristik tersebut muncul, maka tuna kaleng tersebut harus segera dibuang. Apabila tak sengaja dikonsusi, maka beberapa masalah kesehatan akan muncul. Masalah kesehatan tersebut antara lain perut mual, pusing, kepala pusing dan tanda-tanda keracunan lainnya. Jika hal ini terjadi, segeralah berkonsultasi ke dokter.
Seringnya masyarakat tidak menghabiskan sekaligus ikan tuna yang dikemas di dalam kaleng membuatnya menjadi tak dapat bertahan selama saat masih utuh berada di dalam kaleng. Untuk itu, beberapa tips penyimpanan tuna kaleng siap makan di atas tentu sangat direkomendasikan. Prosedur penyimpanan tuna kaleng yang terlanjur dibuka dapat membuat tuna menjadi lebih tahan lama.


Selasa, 23 Januari 2018

Amankah Mengkonsumsi Tuna Kalengan? Apakah Ada Resikonya?

Ikan tuna merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dikonsumsi karena mengandung protein dan mineral serta omega-3 maupun nutrisi lainnya. Ikan tuna ini dijual dalam bentuk ikan yang masih segar meski ada juga yang kalengan di pasaran. Pertanyaannya, amankah mengkonsumsi tuna kalengan dibandingkan konsumsi ikan utuh yang masih segar?
Hal ini menjadi perdebatan sebab banyak juga orang yang lebih suka mengonsumsi tuna yang sudah dikemas dalam bentuk kalengan karena dianggap lebih praktis. Ikan tuna kalengan biasanya tidak perlu dikuliti dan dibuang tulangnya lagi, Anda cukup makan karena bahkan sudah matang dan ada bumbunya pula. Sayangnya, ada juga yang berpendapat mengenai bahaya dari mengonsumsi tuna kalengan ini.

Amankah mengkonsumsi tuna kalengan setiap hari? Ini jawabannya!
Michael Gochfeld, MD, Ph.D, seorang pakar kesehatan dari ‘The Enviromental and Occupational Health Sciences Institute’, menyebutkan bahwa konsumsi ikan tuna kalengan siap makan tiap hari sebenarnya cukup aman. Akan tetapi tetap saja beresiko sebab ada bahaya yang terdapat pada kandungan merkuri di dalam daging ikan tuna tersebut.
Merkuri ini jika terlalu banyak masuk ke dalam tubuh akibat makan daging ikan tuna berlebihan bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Salah satu dampaknya adalah tubuh kita jadi kesemutan dan bahkan kehilangan keseimbangan tubuh. Jadi, kalau ingin mengonsumsi ikan tuna memang sebaiknya perlu dibatasi dan jangan berlebihan alias terlalu banyak.
Uniknya, ‘Food and Drug Administration’ (FDA) di Amerika Serikat mengatakan bahwa kandungan merkuri pada ikan tuna kaleng langsung makan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan ikan tuna segar. Itu berarti kita justru mendapatkan banyak nutrisi yang baik dari memakan ikan tuna tersebut seperti asam folat, omega-3, vitamin B6, vitamin A, dan sebagainya dengan lebih aman. Nutrisi seperti ini juga bagus untuk perkembangan anak. Tapi sebaiknya juga dipertimbangkan bahan pengawet pada produk ikan tuna kalengan.
Menjawab tentang amankah mengkonsumsi tuna kalengan setiap hari, maka pakar kesehatan dari Universitas Sydney, yaitu Leona Victoria Djajadi MND, menyebutkan bahwa meski mengonsumsi ikan tuna kalengan cukup aman tapi tetap harus dibatasi dan jangan terlalu sering. Pakar tersebut juga merekomendasikan agar kita mengonsumsi ikan tuna kalengan 150 gram saja dua atau tiga kali dalam seminggu. Dengan begitu, kita tetap bisa mendapatkan nutrisi yang baik bagi kesehatan tubuh tanpa harus takut akan efek samping dari kelebihan merkuri.
Jangan sembarangan memilih dan memakan ikan tuna kalengan, perhatikan hal ini!
Ada banyak sekali merk tuna kalengan yang enak di pasaran. Tapi sebagai konsumen, kita jangan hanya mencari yang enak saja namun juga harus mempertimbangkan beberapa faktor demi kesehatan tubuh saat memilih ikan kalengan. Ikan kalengan memiliki dampak buruk bagi kesehatan tubuh dan lingkungan kalau kita tidak hati-hati memilihnya.
Berikut ini panduan dalam memilih produk ikan kalengan yang dirilis oleh badan ‘Greenpeace’ yang bisa dilakukan:
1.      Pilih ikan dengan cara penangkapan yang jelas
Greenpeace mengemukakan fakta bahwa lebih dari 80 persen ikan tuna kalengan bersumber dari ikan-ikan yang ditangkap secara liar. Artinya sumbernya tidak jelas dan cara penangkapannya pun juga tidak diketahui. Itu berarti, ikan tuna bisa jadi tidak hanya sekedar ditangkap, namun juga tidak dijaga kelestarian dan habitatnya.
Banyak sekali perusahaan yang menggunakan metode penangkapan ikan tuna untuk membuat tuna kaleng yang enak, tapi dengan metode yang kurang ramah lingkungan. Metode seperti itu tidak hanya menangkap tuna, tapi juga hewan-hewan laut lainnya seperti kura-kura, lumba-lumba, hiu, dan sebagainya. Selain itu, Greenpeace juga menemukan praktik kurang etis terhadap kesejahteraan nelayan kecil yang dibayar dengan upah kecil atau bahkan tak dibayar sama sekali.
Pilihlah merek ikan tuna kalengan yang jelas praktik dan metode penangkapannya. Jangan hanya mempermasalahkan harga ikan tuna kalengan yang murah. Anda juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan.
2.      Carilah ikan tuna dari sumber yang jelas
Ikan tuna yang tidak jelas sumbernya maka akan memperbesar resiko kandungan merkuri di dalamnya. Ikan tuna kaleng yang tidak jelas asalnya membawa risiko paparan merkuri. Menurut ‘Washington Post’, tuna kalengan dengan label light adalah produk yang paling aman level merkurinya kalau ingin dikonsumsi beberapa kali dalam seminggu. Sementara itu, Albacore adalah jenis tuna yang paling banyak mengandung merkuri sehingga lebih baik dikonsumsi tidak terlalu sering atau bahkan bulanan saja.
Carilah ikan tuna kalengan dengan label dolphin friendly atau dolphin safe sebab itu berarti supplier yang menangkapnya peduli dengan lingkungan dan juga pekerjanya. Selain itu, ikan tuna kaleng harus terdapat informasi yang jelas tentang jenis tuna dan sumber tuna itu ditangkap.
Selain memperhatikan hal-hal di atas, saat membeli ikan tuna kalengan maka perhatikan juga hal-hal berikut ini:
-          Jangan beli ikan tuna kalengan kalau kemasan kalengnya kelihatan penyok, bocor, cacat, dsb.
-          Jangan beli tuna kalengan kalau kalengnya sudah menggembung. Perhatikan juga tanggal kadaluwarsanya.
-          Lihat kandungan nutrisi ikan tuna kalengan dari label yang tertera. Untuk di Indonesia, ikan tuna kalengan harus ada label halal juga.
-          Jika tidak habis dimakan setelah dibuka, sebaiknya segera pindahkan sisanya ke wadah bertutup lalu simpan di dalam lemari es. Ikan tuna kalengan biasanya hanya dapat bertahan sekitar 1 sampai 2 hari saja. Lebih dari itu, tuna biasanya sudah busuk dan sebaiknya jangan dikonsumsi.
Itulah beberapa informasi penting mengenai bahaya dan amankah mengkonsumsi tuna kalengan setiap hari. Ikuti juga petunjuk cara membeli produk ikan tuna kalengan yang benar. Semoga bermanfaat.

About Us

PABRIK TUNA KALENG

Kami adalah Pabrik Tuna Kaleng, siap menyuplai Tuna kaleng, sarden kaleng, Ikan Tuna, dll. Dapatkan penawaran kami dengan cara menghubungi kami melalui form yang tersedia

: Java, Indonesia

: DistributorTunaKaleng@gmail.com



Popular Posts

Kontak Kami